Jumat, 21 Januari 2011

Computed Radiography ( CR )


Computed Radiography ( CR )

 Computed radiography adalah proses merubah system analog pada konvensional radiografi menjadi digital radiografi ( Bambang Supriyono 2003:1). Pada sistem Computed Radiography data analog dikonversi ke dalam data digital pada saat tahap pembangkitan energi yang terperangkap di dalam Imaging Plate dengan menggunaklan laser, selanjutnya data digital berupa sinyal-sinyal ditangkap oleh Photo Multiplier Tube (PMT ) kemudian cahaya tersebut digandakan dan diperkuat intensitasnya setelah itu di ubah menjadi sinyal elektrik yang akan di konversi kedalam data digital oleh Analog Digital Converter (ADC).

Pada penggunaan radiografi konvensional digunakan penggabung antara film radiografi dan screen, akan tetapi pada Komputer radiografi menggunakan imaging plate. Walaupun imaging plate secara fisik terlihat sama dengan screen konvensional tetapi memiliki fungsi yang sangat jauh berbeda, karena pada imaging plate berfungsi untuk menyimpan enersi sinar x kedalam photo stimulable phosphor dan menyampaikan informasi gambar itu ke dalam bentuk data digital.

Komponen-komponen yang terdapat pada Computed Radiography antara lain :

Kaset
Kaset pada Computed Radiography terbuat dari carbon fiber dan bagian belakang terbuat dari almunium, kaset ini berfungsi sebagaii pelindung dari Imaging Plate.

Imaging Plate
merupakan komponen utama pada sistem CR yang berfungsi menyimpan energi sinar x, imaging plate terbuat dari bahan Photostimulabel phosphor. Dengan menggunakan Imaging Plate memungkinkan proses gambar pada sistem komputer radiografi untuk melakukan berbagai modifikasi.

Proses yang terjadi pada Imaging Plate di mulai pada saat terkena penyinaran sinar-x , Imaging Plate akan menangkap energi dari sinar x kemudian disimpan oleh bahan phosphor yang akan dirubah menjadi data digital dengan Laser Scanner di dalam Image Reader. Setelah Imaging Plate melalui proses scanning, gambaran akan di tampilkan pada monitor komputer, sementara Imaging Plate masuk ke bagian data penghapusan (erasure) untuk dibersihkan sehingga dapat digunakan kembali untuk pasien yang lainnya.

Proses pembentukan gambar yang terjadi pada imaging plate melalui beberapa tahapan :

1). Exposure
Imaging Plate diletakkan didalam kaset, setelah itu kita lakukan eksposi dengan menggunakan sinar x. Sinar x yang menembus obyek akan mengalami atenulasi sehingga enersi dari sinar x tersebur ditangkap oleh imaging plate dalam bentuk data digital.

2). Stimulate
Bayanggan tersebut kemudian distimulasi dengan Photo Stimulable Phosphor (PSP) yang fungsinya untuk mengubah bayangan laten pada IP menjadi cahaya tampak.

3). Read (pembacaan)
Dengan menggunakan Photo Multiplier, cahaya tampak tersebut di tangkap dan digandakan serta diperkuat intensitasnya kemudian diubah menjadi sinyal elektrik. kemudian sinyal-sinyal ini direkonstruksikan menjadi sebuah gambaran yang dapat dilihat oleh layar monitor.

4). Erasure (penghapusan)
Setelah proses pembacaan seselai, data gambar pada imaging plate secara otomatis akan dihapus oleh Intense Light sehingga imaging plate dapat digunakan kembali.

Charlton, Richard R, dkk, 1992, Principles of Radiographic Imaging Art and Science, Dalmar Publisher, London.
Fuji Film Team, (2001), FCR CR Console Operation Manual. First Edition, Fuji Photo Film Co, Ltd, Tokyo, Japan.
George David, Associate Professor Department of Radiology Medical College of Georgia

Dasar – Dasar Pengetahuan MRI


Dasar – Dasar Pengetahuan MRI
1.         Konsep Dasar Inti Atom Hidrogen
Pada dasarnya setiap materi dengan jumlah proton dan netron ganjil akan  mempunyai nilai momen magnetik yang dikenal dengan MR nuklei sedangkan inti yang mempunyai jumlah proton dan netron genap akan mempunyai momen  magnetik yang bernilai nol. Atom hidrogen terdapat dalam tubuh dalam jumlah yang melimpah, kurang lebih 80% penyusun tubuh manusia adalah atom hidrogen. Setiap atom hidrogen mempunyai satu inti bermuatan tunggal yang mempunyai nilai magnetisasi. Oleh karena itu maka inti atom hidrogen mempunyai peranan yang sangat besar pada MRI (Westbrook dan kuat, 1999).
2.         Presesi dan Frekuensi Larmor Jaringan
Di dalam medan magnet eksternal inti atom akan mengalami gerakan perputaran menyerupai gerakan sebuah gasing. Gasing berputar di atas sumbu bidang vertikal yang bergerak membuat bentuk seperti sebuah kerucut. Gerakan ini disebut dengan presesi. Frekuensi presesi ini besarnya sebanding dengan kekuatan medan magnet eksternal dan nilai gyromagnetic inti atom. Apabila atom dengan frekuensi gyromagnetic yang berbeda berada dalam suatu medan magnet eksternal yang sama maka  masing-masing  atom mempunyai frekuensi presesi yang berbeda.   Sebaliknya walaupun atomnya sama (misalnya atom hidrogen), namun bila diletakkan  dalam medan magnet eksternal dengan kekuatan yang berbeda maka akan  menghasilkan frekuensi presesi yang berbeda pula. Inti atom hidrogen mempunyai frekuensi presesi 42,6 MHz/ Tesla. Frekuensi presesi ini  disebut juga dengan frekuensi Larmor jaringan.

Tiap-tiap inti hidrogen membentuk NMV spin pada sumbu atau porosnya. Pengaruh dari Bo akan menghasilkan spin sekunder atau ”gerakan” NMV mengelilingi Bo. Spin sekunder ini disebut precession, dan menyebabkan momen magnetik bergerak secara sirkuler mengelilingi Bo. Jalur sirkulasi pergerakan itu disebut  ”precessional path” dan kecepatan gerakan NMV mengelilingi Bo disebut ”frekuensi presesi” . Satuan frekuensinya MHz, dimana 1 Hz = 1 putaran per detik.

Kecepatan atau frekuensi presesi proton atom hidrogen tergantung pada kuat medan magnet yang diberikan pada jaringan. Semakin kuat medan semakin cepat presesi proton dan frekuensi presesi yang tergantung pada kuat medan magnet disebut dengan frekuensi Larmor yang mengikuti persamaan :
ω = γ B
dimana:
ω adalah frekuensi Larmor proton,
γ adalah properti inti gyromagnetik, dan
B adalah medan magnet eksternal (Westbrook,C, dan Kaut,C, 1999).
Gambar 5 :   Presesi (Westbrook,C, dan Kaut,C, 1999).

1.         Resonansi
Resonansi adalah peristiwa bergetarnya suatu materi akibat getaran materi lain yang mempunyai frekuensi yang sama. Dalam MRI resonansi merupakan peristiwa perpindahan energi dari pulsa RF ke proton hidrogen karena kesamaan frekuensi. Karena adanya penyerapan energi dari RF inilah pada dasarnya yang mengakibatkan terjadinya magnetisasi transversal sehingga magnetisasi yang diakibatkan oleh pembangkit magnet eksternal dapat diukur berupa pulsa signal MRI. Signal MRI dikenal dengan FID (free induction decay).

Resonansi terjadi bila atom hidrogen dikenai pulsa radiofrekuensi (RF) yang memiliki frekuensi yang sama dengan frekuensi Larmor atom hidrogen tersebut. Normalnya tubuh manusia mempunyai muatan magnet yang arahnya acak sehingga Net  Magnetization Vektor (NMV) nilainya nol, Apabila tubuh manusia dimasukkan dalam medan magnet eksternal yang sangat kuat sebagaimana pada pemeriksaan MRI, maka akan terjadi magnetisasi longitudinal pada inti-inti atom hidrogen. Magnetisasi longitudinal ini sangat kecil bila dibandingkan dengan kuat medan magnet eksternal dari pesawat MRI dan oleh karenanya belum dapat diukur. Untuk dapat mengetahui besarnya magnetisasi inti-inti atom Hidrogen maka inti-inti atom Hidrogen harus mempunyai magnetisasi yang arahnya berbeda dengan medan magnet eksternal. Resonansi pulsa RF mengakibatkan terjadinya magnetisasi transversal yang secara vektor mempunyai arah berbeda dengan medan magnet eksternal sehinga memungkinkan dilakukannya pengukuran NMV.

Untuk dapat terjadi proses resonansi maka besarnya frekuensi RF harus disesuaikan dengan kekuatan medan magnet eksternal dan frekuensi Larmor jaringan. Agar resonansi terjadi pada atom hidrogen pada medan magnet eksternal dengan kekuatan 1 Tesla (10.000 Gauss), maka frekuensi RF yang diberikan adalah 42.6 MHz sedang untuk medan magnet eksternal dengan kekuatan 1.5 Tesla diperlukan 63.2 MHz. Hasil dari peristiwa resonansi adalah  adanya perubahan arah NMV pada magnetisasi longitudinal ke arah magnetisasi transversal dan magnetik moment menjadi dalam keadaan in phase. Peristiwa resonansi ini pada dasarnya adalah suatu transfer energi dari gelombang RF ke inti atom Hidrogen yang mengalami magnetisasi oleh pembangkit magnet eksternal.

Prinsip dasar CT Scanner


Prinsip dasar CT Scanner

Prinsip dasar CT scan mirip dengan perangkat radiografi yang sudah lebih umum dikenal. Kedua perangkat ini sama-sama memanfaatkan intensitas radiasi terusan setelah melewati suatu obyek untuk membentuk citra/gambar. Perbedaan antara keduanya adalah pada teknik yang digunakan untuk memperoleh citra dan pada citra yang dihasilkan. Tidak seperti citra yang dihasilkan dari teknik radiografi, informasi citra yang ditampilkan oleh CT scan tidak tumpang tindih (overlap) sehingga dapat memperoleh citra yang dapat diamati tidak hanya pada bidang tegak lurus berkas sinar (seperti pada foto rontgen), citra CT scan dapat menampilkan informasi tampang lintang obyek yang diinspeksi. Oleh karena itu, citra ini dapat memberikan sebaran kerapatan struktur internal obyek sehingga citra yang dihasilkan oleh CT scan lebih mudah dianalisis daripada citra yang dihasilkan oleh teknik radiografi konvensional.

CT Scanner menggunakan penyinaran khusus yang dihubungkan dengan komputer berdaya tinggi yang berfungsi memproses hasil scan untuk memperoleh gambaran panampang-lintang dari badan. Pasien dibaringkan diatas suatu meja khusus yang secara perlahan – lahan dipindahkan ke dalam cincin CT Scan. Scanner berputar mengelilingi pasien pada saat pengambilan sinar rontgen. Waktu yang digunakan sampai seluruh proses scanning ini selesai berkisar dari 45 menit sampai 1 jam, tergantung pada jenis CT scan yang digunakan( waktu ini termasuk waktu check-in nya).  
Gambar 2.2 Bagan Prinsip Kerja CT Scanner

Pemeriksaan CT Scan Orbita


Pemeriksaan CT Scan Orbita
Menurut Springer (1996), pada pemeriksaan CT Scan orbita dapat menggambarkan keakuratan struktur-struktur tulang orbita seperti pada muscles ophthalmic, bola mata, dan retroorbital fat.

Menurut Neseth (2000), Imejing dari orbita secara lengkap dibuat potongan axial dan coronal. FOV yang divisulisasikan dari gambaran lateral kepala, meliputi anterior bola mata sampai dengan posterior dorsum sella. Scan range yang digunakan adalah dengan irisan yang tipis untuk potongan coronal maupun potongan axial untuk meningkatkan kualitas gambar. Pada scan axial menggambarkan secara keseluruhan dari penebalan superior dari sinus maksilaris yang melalui superior orbita rim.

Sedangkan menurut Springer (1996), pemeriksaan rutin untuk orbita dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, dengan potongan axial dan potongan coronal, dengan slice thickness yang digunakan pada pemeriksaan CT Scan orbita tidak lebih dari 2 mm. Pemeriksaan CT Scan Orbita dapat digunakan untuk menentukan infraorbital foreign body dan untuk evaluasi dari trauma.
Slice thickness yang tipis (3 mm) lebih disukai untuk menggambarkan potongan axila dan coronal dari orbita, hal ini karena dapat memberikan penilaian dari lessi soft tissue dan dapat membantu untuk melihat batasan dari dinding tulang orbita. Beberapa institusi menggunakan slice thickness 1 mm pada scanning axial, kemudian mereformat untuk menghasilkan gambaran coronal atau sagital. Teknik reformat berguna ketika gambaran coronal tidak dapat dilakukan, namun kualitas gambaran reformat memiliki mutu yang lebih rendah dibandingkan dengan direct image (Seeram, 2001).
Pada klinis tumor/ infeksi scanning potongan axial 3-5 mm dari dinding inferior hingga dinding superior cavum orbita, sudut sejajar dengan nervus opticus atau menggunakan garis infraorbito meatal line, tanpa dan dengan kontras. Selanjutna dibuat potongan coronal 3-5 mm mencakup seluruh cavum orbita (www.radiografer.net, 2008).
Indikasi pemeriksaan CT Orbita (Jaengsri, 2004)
Kelainan struktur dari orbita, sisi dari orbita, trauma, benda asing.

Persiapan Pasien
Infomasikan mengenai prosedur pemeriksaan kepada pasien, pasien dianjurkan untuk puasa makan dan minum jika dalam pemeriksaan memerlukan injeksi media kontras.

Posisi Pasien
Atur posisi pasien dalam keadaan supine pada scanning axial, head first. Tempatkan kepala pada head holder, dagu fleksi dengan nyaman ke arah dada sehingga OML (Orbito Meatal Line) tegak lurus untuk scan axial dan supine atau prone pada scanning coronal dengan kepala dan leher ekstensi dan mengganjal pada holder.

Scannogram
Scannogram dapat dibuat antero posterior (AP) maupun lateral. Scannogram pada proyeksi AP akan dapat mengevaluasi apakah posisi objek sudah lurus dan berada di pertengahan. Sedangkan scannogram lateral bermanfaat untuk menentukan penyudutan gantry (Neseth, 2000).
   


Gambar 7. Scannogram CT Scan Orbita potongan axial dan coronal (Neseth, 2000)


Kamis, 20 Januari 2011

KONSEP DOSIS RADIASI


(Batan,2007.,Michael,2002)      
Besaran dan Satuan Dosis Radiasi
 1). Paparan
Paparan adalah kemampuan radiasi sinar X atau gamma untuk menimbulkan ionisasi di udara pada volume tertentu. Satuan paparan adalah coulomb/kilogram (C/kg)
2). Dosis serap
Dosis serap adalah energi rata-rata yang diserap bahan per satuan massa bahan tersebut. Satuan dosis serap adalah joule/kg atau gray (Gy)
3). Dosis Ekivalen
Dosis ekivalen merupakan perkalian dosis serap dan faktor bobot radiasi. Faktor bobot radiasi  adalah besaran yang merupakan kuantisasi radiasi untuk menimbulkan kerusakan pada jaringan/organ. Satuan dosis ekivalen adalah Sievert (Sv)
4). Dosis Efektif
Dosis efektif  adalah besaran dosis yang memperhitungkan sensitifitas organ/jaringan. Tingkat kepekaan organ/jaringan tubuh terhadap efek stokastik akibat radiasi disebut faktor bobot organ/jaringan tubuh (Wt) . Dosis efektif merupakan hasil perkalian dosis ekivalen dengan faktor bobot jaringan/organ. Satuan dosis efektif adalah Sievert (Sv)
5). Dosis Kolektif
Dosis kolektif adalah dosis ekivalen atau dosis efektif yang digunakan apabila terjadi penyinaran pada sejumlah besar populasi peduduk. Penyinaran ini biasanya muncul akibat kecelakaan nuklir atau kecelakaan radiasi. Simbol besaran untuk dosis kolektif adalah ST dengan satuan sievert-man (Sv-man).

Alat Ukur Radiasi
1). Surveymeter
         Surveymeter adalah alat ukur radiasi yang dapat menampilkan hasil pengukuran secara langsung  pada saat dikenai radiasi. Alat tersebut berfungsi untuk mengukur laju paparan radiasi secara langsung di tempat kerja.
2). Personel monitor
a). Pocket Dosimeter (Dosimeter saku)
Pocket dosimeter saku merupakan detektor isian gas yang bekerja pada daerah ionisasi dan menghasilkan tanggap secara langsung.
b). Film Badge
Film badge adalah detector yang berbentuk film photografi yang berbentuk emulsi butiran perak helida (AgBr).
c). Termo Luminiscence Dosimeter
Termo Luminiscence Dosimeter menggunakan bahan kristal an organik seperti LIF yang bila dikenai radiasi maka mempunyai proses sintilasi.

Selasa, 18 Januari 2011

Hakekat Tomography


Hakekat Tomografi
Tomografi adalah teknik radiografi untuk memperlihatkan struktur jaringan anatomi yang berada pada sebuah bidang jaringan dimana struktur anatomi diatas dan dibawahnya terlihat kabur ( Principles of radiographic Imaging An Art and science, 1992), sedangkan Menurut  Richard R Chalton (1992) , tomografi adalah teknik radiografi untuk memperlihatkan gambaran lapisan-lapisan tubuh tertentu dengan cara mengaburkan lapisan atas dan bawahnya. 

Prinsip tomografi adalah mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari suatu lapisan tertentu dari organ tubuh dengan cara menggerakkan 2 diantara 3 komponen,. 3 komponen tersebut adalah tube, kaset dan obyek. Tabung sinar x dan image receptor  ( kaset ), bergerak berlawanan arah pada sebuah titik yang dinamakan fulcrum ( pivot point ) fulcrum merupakan titik gerak dari tabung sinar x dan image receptor terkonsentrasi  (X-ray equipment for student  radiographer, 1975).    












Dari gambar diatas diterangkan tentang prinsip dan teknik tomografi,  yaitu pada permulaan eksposi tabung dan film  pada posisi T1 dan F1, selama eksposi tabung akan bergerak berlawana dengan film dan pergerakan keduanya akan berakhir pada posisi T2 dan F2. Focal plane adalah bidang yang berada tepat pada titik fulcrum. Struktur gambaran yang setinggi fokal plane akan terproyeksi jelas yaitu titik 2, sedangkan daerah diatas focal plane yaitu pada titik 1, dan dibawahnya titik 2 akan terproyeksi kabur. Dalam tomografi ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu pengaturan film dan pengaturan  fulcrum atau pivot point.

Pesawat tomografi terdiri dari beberapa bagian. Adapun bagiannya, sebagai berikut:
a.         Tiang penghubung ( Telescopic Rod ) adalah yang menghubungkan tabung rontgen dengan tempat kaset yang dapat bergerak sewaktu eksposi (  movement cassette tray ) , tiang penghubung ini menghubungkan fokus pada tabung sinar X sampai pada cassette tray.
b.        Fulcrum, merupakan titik gerak yang dapat diatur ketinggiannya sesuai dengan kedal;aman lapisan yang dikehendaki.
c.         Tabung sinar X , dapat bergerak sealama eksposi.
d.        Meja kontrol (  control table ) berfungsi mengatur faktor eksposi.
e.         Panel control berfungsi mengatur penyudutan tabung, jarak sinar X dengan meja, ketinggian fulcrum dan mengatur kolimasi. 

Jumat, 22 Oktober 2010

..♥:::Cintai Dalam Diammu:::♥..


..♥:::Cintai Dalam Diammu:::♥..

Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang,
cukup cintai ia dalam diam ...
karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ...
kau ingin memuliakan dia,dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang,
kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..

karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu..menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..

karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH pilihkan untukmu ...

ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan ALi ?
yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ...
tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah

karena dalam diammu tersimpan kekuatan ...kekuatan harapan ...hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ...
bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap padanya ?

dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,biarkan ia tetap diam ...

'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat ...

biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ...


*•*•*•*•*•*•*•*•*•*•*•*•*

Cinta.. hal fitrah yang dianugerahi pada setiap insan..dengannya sorg-ibu yang lemah bisa menjadi kuat dan mampu merawat anak-anaknya..dengannnya sorg-ayah yang begitu kekar bisa menjadi lunak dan pengasih pada anak dan istriya..

Cinta.. Cinta.. Cinta..Sikapi ia dengan cara yang syar’i.. agar tak salah dalam melangkah..

________________________

((•share by Ummu Saif & Arytha Rusianty))

Kamis, 27 Mei 2010

Tentang Profesi Teknisi Elektromedis

Tentang Profesi Teknisi Elektromedis

Disadur dari Biro Hukum & Organisasi Departemen Kesehatan R.I.
Web hukor.depkes.go.id

Pendahuluan

Pelayanan teknik elektromedik/biomedika yang merupakan bagian integral pelayanan kesehatan, telah mengalami perkembangan yang pesat baik dari sisi keilmuan maupun teknologi rekayasa pada bidang kedokteran/kesehatan seiring dan sejalan dengan era globalisasi.

Teknisi Elektromedis/biomedika sebagai profesi kesehatan dituntut untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara profesional, efektif dan efisien. Klien secara penuh mempercayakan masalahnya untuk mendapatkan pelayanan teknik elektromedik/biomedika yang bermutu dan bertanggung jawab. Teknik elektromedik/biomedika sebagai profesi mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan ruang lingkup kegiatannya.
Guna meningkatkan kinerja profesi teknik elektromedik/biomedika salah satunya diperlukan standar profesi sebagai pedoman dasar setiap teknisi elektromedis dalam mengaktualisasikan diri dan sebagai hasil keluaran (outcome) yang diharapkan profesinya.

Standar Profesi
Profesi keteknisian elektromedis adalah suatu pekerjaan teknisi elektromedis yang dilaksanakan berdasarkan ilmu, kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan berjenjang, dan kode etik yang bersifat melayani masyarakat.
Menurut Barber, pengertian profesi mengandung esensi sebagai berikut :
1. Memiliki ilmu pengetahuan yang sistematik
2. Orientasi primer lebih cenderung untuk kepentingan umum/masyarakat dari pada kepentingan pribadi.
3. Memiliki mekanisme kontrol terhadap tingkah laku anggotanya melalui kode etik yang dibuat oleh organisasi profesi dan diterima sebagai kewajiban untuk dipatuhi.
Ketiga esensi tersebut ada pada profesi keteknisian elektromedis.

Jumat, 14 Mei 2010

renungan sore itu

Sore itu,
Saat sedang sendiri dikamar, sayup-sayup terdengar suara dari ta’lim pengajian dimasjid belakang kamar kost. Sedikit berkonsentrasi untuk menyimak, dan ternyata yang dibicarakan adalah tentang keadaan seorang istri yang shalihah, yang apabila dipandang oleh suaminya akan menyejukkan hati, memberikan ketenangan, begitulah keadaan istri yang shalihah. Subhanalloh...

“Maukah aku beritahukan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? Yaitu, istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya, dan bila ia pergi si istri akan menjaga dirinya untuk suaminya”
(HR. Abu dawud)
“Dunia itu perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah”
(HR. Muslim)

Selasa, 13 April 2010

Kupersembahkan Bait-bait ini Untukmu Ummi Tercinta..

Kupersembahkan Bait-bait ini Untukmu Ummi Tercinta..


Ketika Ummi sekarang sudah mulai tua dan renta,
Dan bukanlah seperti Ummi yang dulu lagi..
Maka berusahalah mengerti dan bersabarlah sedikit terhadapnya..


* * *
Ketika pakaian Ummi sekarang kotor karena makanan,

dan ketika Ummi lupa cara memakai pakaian,

Ingatkah kamu bagaimana Ummi dahulu mengajarimu berpakaian di waktu kecil..?

Ketika Ummi berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar,

Maka bersabarlah mendengarkannya..

Ingatkah kamu ketika kecil, Ummi harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali diceritakan agar kamu bisa tertidur..?

* * *
Ketika Ummi memerlukanmu untuk membantunya,

Janganlah kamu menolak apalagi marah kepadanya..

Ingatkah kamu sewaktu kecil, ia harus bersusah payah agar bisa membantumu berhasil..?

Ketika Ummi tak paham dengan hal-hal yang baru,

Janganlah kamu sekali-kali menertawakannya..

Pikirkanlah bagaimana dulu Ummi begitu sabar menjawab setiap pertanyaan “MENGAPA” darimu..
* * *

Ketika Ummi kini tak dapat berjalan,

Ulurkanlah tanganmu yang masih kuat untuk memapahnya..

Ingatkah kamu sewaktu kecil, Ummi senantiasa memapahmu agar kamu bisa belajar berjalan..

Ketika Ummi lupa akan apa yang sedang dibicarakan,

Berilah Ummi waktu dan kesempatan untuk mengingatnya..
Karena sebenarnya bagi Ummi, apa yang dibicarakan tidaklah penting asalkan kamu disampingnya mendengarkannya, Ummi sudah puas..

* * *

Ketika kamu memandang Ummi mulai menua dan tak berdaya, janganlah bersedih,

Mengertilah, dukunglah Ummi seperti Ummi menghadapimu ketika kamu mulai belajar melihat kehidupan ini..
Ingatkah waktu itu Ummi memberi petunjuk bagaimana cara menjalani kehidupan ini..?

Sekarang temanilah dirinya dalam menghabiskan sisa-sisa hidupnya..

Berilah Ummi ketulusan cinta dan kesabaranmu, Ummi akan memberikan senyuman terindah untukmu,

Dalam senyumnya terdapat rasa bangga dan kebahagiaan cinta yang tak terhingga untukmu..

Yang tak akan lekang oleh waktu..bahkan ketika ajalnya telah diambang pintu..

Ummi, Ananda sangat mencintaimu….

Bandung, 2 April 2010

dr.Abu Hana El-Firdan

SUMBER : Notes beberapa teman di facebook, diedit dan diberi tambahan oleh dr.Abu Hana dan dipublikasikan di http://kaahil.wordpress.com

Baca juga : http://kaahil.wordpress.com/2009/12/03/kupersembahkan-bait-bait-ini-untukmu-abi-tercinta/

* * * *